Semantik "Jenis Makna Leksikal, Gramatikal, Refrensial dan Non Refrensial"
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Bahasa Indonesia merupakan bahasa
persatuan milik Indonesia,digunakan sebagai alat komunikasi yang menyatukan
seluruh penduduk Indonesia dari sabang hingga Merauke. Sehingga karna itulah
bahasa Indonesia ini seringkali dikaji, dianalisis, serta dikembangkan.
Sehingga dalam bahasa Indonesia memiliki ilmu tersendiri yang dapat dipelajari
siapapun. Karna itulah banyak pendekatan yang digunakan untuk mengkaji bahasa
ini. Seiring berkembangnya zaman, bahasa Indonesia akan mengalami pergeseran –
pergeseran makna. Hal ini ditunjukkan lewat banyaknya makna – makna baru,
meskipun begitu makna yang sudah melekat sejak awal tidak serta merta hilang
begitu saja. Perubahan – perubahan makna ini seringkali tidak disadari oleh
pengguna bahasa itu sendiri.
Sepertihal-nya dalam semantik yang
merupakan salah satu cabang anak dari bidang linguistik. Semantik dalam bahasa
Indonesia berasal dari bahasa Yunani ‘sema’ (kata benda) yang berarti
‘tanda’ atau ‘lambang’. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah
tanda-tanda linguistik (Perancis : signé linguistique). Menurut Charles
Morrist Mengemukakan bahwa semantik menelaah “hubungan-hubungan tanda-tanda
dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut”.
Sehingga dalam pergeseran – pergeseran makna dalam bahasa ini dapat mengkaji
makna suatu bahasa dengan salah satu cabang dari linguistik..
B.
RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Apa
pengertian semantik?
2. Apa
definisi makna?
3. Apa
definisi makna leksikal dan gramatikal itu?
4. Apa
definisi makna refrensial dannonrefrensial itu?
C.
TUJUAN
PENULISAN MAKALAH
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penulisan
makalah ini adalah untuk:
1. Dapat
memahami pengertian semantik.
2. Dapat
memahami definisi makna.
3. Dapat
memahami definisi makna leksikal dan gramatikal.
4. Dapat
memahami definisi makna refrensial dan nonrefrensial.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
SEMANTIK
Dalam studi linguistik, semantik
termasuk dalam salah satu cabang dari studi tersebut. Semantic dalam bahasa
Indonesia berasal dari bahasa Yunani ‘sema’ (kata benda) berarti
‘tanda’ atau ‘lambang’. Kata kerjanya adalah ‘semaino’ yang berarti
‘menandai’ atau ‘melambangkan’.Yang dimaksud dalam tanda atau lambang adalah
tanda-tanda linguistik (Perancis : signé linguistique).
Menurut Ferdinan de Saussure (1966), tanda lingustik
terdiri dari:
1. Komponen
yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa.
2. Komponen
yang diartikan atau makna dari komponen pertama.
Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang, dan
sedangkan yang ditandai atau dilambangkan adalah sesuatu yang berada di luar
bahasa, atau yang lazim disebut sebagai referent/ acuan / hal yang ditunjuk. Jadi,
Ilmu Semantik adalah : Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda
linguistik dengan hal-hal yang ditandainya.
Arti semantik sendiri memiliki
berbagai macam sudut pandang yang bermacam – macam, sehingga arti yang berbeda
– beda ini sangatlah diharapkan karena dapat memberikan perkembangan disiplin
ilmu linguistik yang amat luas cakupannya. Seperti–halnya Charles Morrist yang
mengemukakan bahwa semantik menelaah “hubungan-hubungan tanda-tanda dengan
objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut”. Lalu ada
J.W.M Verhaar; 1981:9 yang mengemukakan bahwa semantik (dalam bahasa inggris:
semantics) berarti teori makna atau teori arti, yakni cabang sistematik bahasa
yang menyelidiki makna atau arti. Adapula Abdul Chaer yang mengartikan Semantik
merupakan ilmu tentang makna atau tentang arti. Yaitu salah satu dari 3 (tiga)
tataran analisis bahasa (fonologi, gramatikal dan semantik).
Lalu pandangan semantik mulai berbeda
dengan pandangan sebelumnya, setelah karya de Saussure ini muncul.
Perbedaan pandangan tersebut antara lain:
1. Pandangan
historis mulai ditinggalkan
2. Perhatian
mulai ditinggalkan pada struktur di dalam kosa kata,
3. Semantik
mulai dipengaruhi stilistika
4. Studi
semantik terarah pada bahasa tertentu (tidak bersifat umum lagi)
Hubungan antara bahasa dan pikira
mulai dipelajari, karena bahasa merupakan kekuatan yang menetukan dan
mengarahkan pikiran (perhatian perkembangan dari ide ini terhadap SapirWhorf,
1956-Bahasa cermin bangsa).
Semantik telah melepaskan diri dari
filsafat, tetapi tidak berarti filsafat tidak membantu perkembangan semantik
(perhatikan pula akan adanya semantik filosofis yang merupakan cabang logika
simbolis.
B. DEFINISI
MAKNA
Hornby dalam Sudaryat, (2009:
13) menjelaskan bahwa makna merupakan apa yang kita artikan atau dimaksudkan
oleh kita. Dajasudarma, (1999: 5) menjelaskan bahwa makna merupakan
pertautan antara unsur-unsur bahasa itu sendiri.
Sedangkan Purwadarminto menjelaskan bahwa makna yaitu arti atau
maksud. Begitu juga dengan Ferdinand de Saussure (Di dalam Abdul Chear,
1994:286) berpendapat bahwa makna merupakan konsep yang dimiliki oleh suatu
tanda linguistik. Ogden dan Richard (dalam Sudaryat, 2009:
14) menjelaskan tentang -apa itu makna?- dalam empat belas rincian sebagai
berikut:
1. Merupakan
sifat yang intrinsik,
2. Memiliki
hubungan dengan benda lainnya dan sukar dianalisis,
3. Kata
lainnya terkait kata-kata yang ada di dalam kamus,
4. Konotasi
kata,
5. Merupakan
esensi suatu aktivitas yang digambarkan dalam suatu objek,
6. Merupakan
tempat sesuatu di dalam sistem,
7. Merupakan
konsekuensi praktis suatu benda dalam pengalaman kita mendatang,
8. Merupakan
konsekuensi teoritis dari pernyataan,
9. Emosi
yang muncul dari sesuatu,
10. Merupakan
hubungan aktual dan lambang/simbol,
11. Lambang
yang kita tafsirkan, Sesuatu hal yang kita sarankan, Suatu kejadian yang
mengingatkan kita pada kejadian yang pantas, Efek yang membatu ingatan tertentu
saat mendapatkan stimulus, Penggunaan lambang sesuai aktual yang dirujuk,
12. Penggunaan
lambang sesuai dengan apa yang dimaksud,
13. Kepercayaan
dalam menggunakan lambang seperti apa yang kita maksudkan,
14. Tafsiran
lambang (hubungan-hubungan, percaya apa yang diacu dan percaya kepada si
pembicara terkait apa yang dimaksudkan).
Dengan kata lain, makna dapat disimpulkan sebagai arti
dari suatu symbol pada sebuah konsep atau gagasan. Seperti contoh sebuah konsep
tentang hewan, hewan yang ditunjuk memiliki ciri – ciri berkaki 4, berkumis,
memiliki kelenjar susu, serta berbunyi meong. Lalu agar lebih dipahami,
masyarakat bahasa menentukan istilah dari konsep hewan tersebut, yaitu kucing.
Dalam hal ini makna juga memiliki ragam makna atau
jenis makna, hal ini dikarenakan sudut pandang dalam makna sediri sangatlah
luas, terlebih dalam ilmu semantik. Ragam makna ini dapat dilihat dari berbagai
kriteria atau sudut pandang, yaitu:
1. Berdasarkan
jenis semantiknya, yaitu dapat dibedakan anatara makna leksikal dan gramatikal.
2. Berdasarkan
ada tidaknya refren suatu kata, yaitu berdasarkan ada atau tidak adanya refren
pada sebuah kata atau leksem. Dapat dibedakan adanya makna refrensial dan makna
non refrensial.
3. Berdasarkan
ada tidaknya nilai rasa suatu kata, yaitu dapat dibedakan adanya makna
denotatif dan konotatif.
4. Berdasarkan
ketepatan maknanya, yaitu dikenal adanya makna kata dan makna istilah atau
makna umum dan makna khusus.
5. Berdasarkan
sudut pandang lainnya, yaitu dapat disebutkan adanya makna – makna asosiatif,
kolokatif, reflektif, idiomatic, dan sebagainya.
C. Makna
Leksikal dan Makna Gramatikal
Makna Leksikal dan
gramatikal merupakan salah satu jenis makna atau ragam makna yang dilihat dari
jenis semantiknya.
1.
Leksikal
Dalam hal ini, leksikal merupakan
bentuk dalam adjektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (vobuler,
kosa kata, perbendaharaan kata). Satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu
satuan bentuk bahasa yang bermakna. Jika leksikon disamakan dengan kosakata
atau perbendaharaan kata, maka leksem dapat kita samakan dengan kata. Sehingga
makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang sesuai dengan refrennya
(makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indra, atau makna yang memang
nyata dalam kehidupan kita. Seperti dalam dalam kata lebah, makna leksikalnya
adalah salah satu makhluk hidup dari komunitas hewan yang sarang atau tempat
tinggalnya terdapat madu alami yang sehat. Dalam hal ini, lebah dapat memiliki
arti yang sesuai dengan hasil pengamatan indra, karena itu masuk dalam makna
leksikal.
Dalam makna lebah dapat di perjelas
menggunakan kalimat “ lebah membangun rumahnya dengan madu yang didapat dari
bunga – bunga yang bermekaran”. Kata lebah
pada kalimat yang memiliki tanda petik tersebut merujuk kepada komunitas
makhluk hidup hewani, bukan kepada makna lainnya. Namun dalam kalimat lain,
seperti “dia terlahir dengan dagu
seperti lebah bergantung – gantung”. Dalam kalimat ini, lebah yang
dimaksud tidak maksuk kepada makna leksikal karena tidak mengartikan rujukan
lebah kepada salah satu komunitas hewan, melainkan kepada seorang manusia yang
memiliki dagu yang indah. dengan kata lain, lebah dalam kalimat tersebut hanya
sebuah kata kiasan yang menggambarkan dagu yang indah.
Setidaknya, makna leksikal dapat
diartikan dalam beberapa buah definisi sebagai berikut.
Ø
makna yang bersifat kata
Ø
makna yang sesuai
rujukannya
Ø
makna yang sesuai dengan
hasil pengamatan alat indera
Ø
makna yang dapat
diperoleh tanpa konteks
Ø
makna kamus
Adapun
contoh lain leksikal, yaitu:
Perhatikan kata
kursi, memetik, dan buaya dalam kalimat-kalimat berikut.
Ø Di
sudut ruangan itu terletak sebuah kursi usang milik Kakek.
Ø Sudah
lama tetangga kami itu menginginkan kursi di cabinet pemerintahan yang baru.
Ø Setiap
pergantian musim ia selalu memetik bunga yang berbeda-beda.
Ø Kita
selalu bisa memetik hikmah dari setiap kejadian.
Ø Seorang
anak dikabarkan dimakan oleh buaya di sungai dekat rumahnya.
Ø Pria
itu memang buaya, tak tega aku melihat Marni disakiti seperti itu.
Makna leksikal dari kata kursi,
memetik, dan buaya secara berturut-turut adalah tempat duduk yang berkaki dan
bersandaran, mengambil dengan mematahkan tangkainya, dan binatang melata
berdarah dingin berbadan besar serta berkulit keras. Dengan demikian, kata-kata
yang bermakna leksikal ada pada kalimat (a), (c), dan (e).
Makna leksikal sering disebut sebagai
makna kamus. Hal ini dapat dikatakan benar, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.
Makna kamus berarti maknanya sesuai dengan apa yang ada di dalam kamus.
Padahal, makna atau arti yang ada di dalam kamus (katakanlah Kamus Besar Bahasa
Indonesia) itu tidak semuanya bersifat leksikal. Sebagai contoh, makna kata
kursi dalam kalimat (2) juga terdapat dalam KBBI, yakni kedudukan, jabatan. Untuk
itu, sebelum kita memaknai sebuah kata, kita harus melihat kata yang dirujuk
dengan kata lain tersebut. Sehingga bisa mengetahui jika kata kursi tersebut
apakah sebuah benda atau kiasan.
2.
Gramatikal
Sedangkan dalam gramatikal, merupakan
sebuah makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau dapat dikatakan makna
yang muncul disebabkan berfungsinya sebuah kata dalam kalimat. Tataran
gramatika meliputi cabang morfologi dan sintaksis karena akan lebih dipahami
jika kita memahami ilmu Morfologi. Hal ini karena proses gramatika mencakup
proses afiksasi (pengimbuhan), reduplikasi (pengulangan),
dan komposisi (penggabungan) yang dipelajari di dalam Morfologi.
Secara sederhana, makna gramatika
berarti makna yang muncul dari proses pengimbuhan, pengulangan, atau
penggabungan kata.
Adapun contoh gramatikal, yaitu:
·
Pengimbuhan (Afiksasi)
a.
Pakaian ini terbawa
olehku.
b.
Koper seberat ini tidak
akan terbawa oleh anak itu.
Pengimbuhan ter- dengan kata dasar bawa pada kalimat
(a.) menghasilkan makna gramatikal tidak sengaja dibawa, sedangkan pada kalimat
(b. ) berarti dapat dibawa.
·
Pengulangan (Reduplikasi)
a.
Bukalah gerbang itu
lebar-lebar.
b.
Ibu menyuruhku untuk
memetik daun yang lebar-lebar.
Proses pengulangan kata lebar pada kalimat (a.)
bermakna gramatikal selebar mungkin, dan pada kalimat (b.) bermakna hanya yang
lebar.
·
Penggabungan (Komposisi)
a.
Menurutku, sate ayam
lebih empuk.
b.
Orang Korea itu baru
mencoba sate Madura.
Penggabungan kata sate dengan ayam dan Madura
menghasilkan dua makna yang berbeda, yakni sate yang bahannya dari ayam
dan berasal dari Madura.
D.
Makna Refrensial dan
Nonrefrensial
Makna Refrensial dan non
refrensial ini merupakan salah satu jenis makna atau ragam makna yang dilihat
dari ada tidaknya suatu refren pada sebuah kata atau leksem.
1.
Refrensial
Dalam makna refrensial dan non refrensial dapat dibedakan dari ada tidak adanya refren dari kata – kata itu. Jika kata tersebut memiliki refren, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata tersebut disebut kata bermakna refrensial atau dapat juga diartikan makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau memiliki referen (acuan). Dalam makna referensial dapat disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Sehingga dalam makna refrensial terdapat keterkaitan dengan konsep yang mengenai sesuatu dan sudah disepakati bersama (oleh masyarakat bahasa).
|
b. konsep |
b. Konsep
Dari sini dapat dilihat jika acuan
tidak memiliki hubungan langsung dengan kata yang ditunjuk oleh garis biru.
Sedangkan acuan dan kata memiliki hubungan langsung dengan konsep. Acuan
berhubungan dengan konsep namun belum memiliki hubungan dengan kata, sehingga
konsep membuat acuan ini memiliki kata.
Adapun
contoh refrensial, yaitu:
Orang itu
menampar orang.
1 2
Penjelasan:
Pada contoh diatas bahwa orang1
dibedakan maknanya dari orang2 karena orang1 sebagai pelaku (agentif) dan
orang2 sebagai pengalam (yang mengalami makna yang diungkapkan verba), hal
tersebut menunjukkan makna kategori yang berbeda, tetapi makna referensil
mengacu kepada konsep yang sama (orang = manusia).
2. Non
Refrensial
Sedangkan Makna nonreferensial merupakan
sebuah kata yang tidak memiliki referen (acuan). Seperti kata preposisi dan
konjungsi, juga kata tugas lainnya. Dalam hal ini kata preposisi dan konjungsi
serta kata tugas lainnya hanya memiliki fungsi atau tugas tapi tidak memiliki
makna.
Berkenaan dengan bahasan ini ada
sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktis, yaitu kata yang
acuannya tidak menetap pada satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud
yang satu kepada maujud yang lain. Yang termasuk kata-kata deiktis yaitu:
dia, saya, kamu, di sini, di sana, di situ, sekarang, besok, nanti, ini, itu.
Contoh lain referen kata di sini dalam
ketiga kalimat berikut:
a. Tadi
dia duduk di sini
b. ”Hujan
terjadi hampir setiap hari di sini”, kata walikota Bogor.
c. Di
sini, di Indonesia, hal seperti itu sering
terjadi.
Pada kalimat (a) kata di sini menunjukan
tempat tertentu yang sempit sekali. Mungkin bisa dimaksudkan sebuah bangku,
atau hanya pada sepotong tempat dari sebuah bangku. Pada kalimat (b) di
sini menunjuk pada sebuah tempat yang lebih luas yaitu kota Bogor.
Sedangkan pada kalimat (c) di sini merujuk pada daerah yang
meliputi seluruh wilayah Indonesia. Jadi dari ketiga macam contoh diatas
referennya tidak sama, oleh karena itu disebut makna nonreferensial.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Semantik merupakan salah satu cabang
mikrolinguistik, yang mengkaji tentang makna. Makna leksikal adalah bentuk
dalam adjektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (vobuler, kosa kata,
perbendaharaan kata). Sedangkan dalam gramatikal, merupakan sebuah makna yang
menyangkut hubungan intra bahasa, atau dapat dikatakan makna yang muncul
disebabkan berfungsinya sebuah kata dalam kalimat. Dalam makna refrensial dan
non refrensial dapat dibedakan dari ada tidak adanya refren dari kata – kata itu.
B. SARAN
Hasil makalah ini dibuat untuk
memenuhi tugas dalam mata kuliah belajar dan pembelajaran. Sehingga kami
berharap makalah ini dapat membantu dan bermanfaat bagi semua mahasiswa yang
membutuhkannya. Kami juga berharap kepada dosen pengampu mata kuliah ini,
maupun pembaca untukmemberikan kritik dan sarannya agar lebih baik dalam tugas
– tugas menulis berikutnya. Terimakasih.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul Chaer, L. M. (t.thn.). Semantik
Bahasa Indonesia. Dipetik Maret 23, 2021, dari PBIN4215-M1.pdf:
http://repository.ut.ac.id/4770/1/PBIN4215-M1.pdf
Adjie,
D. (t.thn.). SlidePlayer.com. Dipetik Maret 23, 2021, dari
https://slideplayer.info/slide/2724985/
Chaer,
A. (2013). Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka
Cipta. Dipetik maret 15, 2021
Djajasudrama,
T. F. (2013). Semantik 2: Relasi Makna
Pradigmatik-Sintagmatik-Derivasional. Bandung: PT Refika Aditama. Dipetik
Maret 15, 2021
Kurniawan,
A. (2021, Maret 16). Semantik Adalah – Pengertian, Sejarah, Jenis, Unsur,
Manfaat, Analisis, Para Ahli. Dipetik Maret 17, 2021, dari
gurupendidikan.co.id: https://www.gurupendidikan.co.id/semantik-adalah/
Mahasiswa,
R. (2017, Februari 25). http://rantauanmahasiswa.blogspot.com/.
Dipetik Maret 15, 2021, dari
http://rantauanmahasiswa.blogspot.com/2017/02/makalah-makna-gramatikal-dan-makna.html
siswapedia,
T. (2019, Juli 21). Pengertian Makna Menurut Para Ahli. Dipetik Maret
23, 2021, dari timsiswapedia.com:
https://www.siswapedia.com/pengertian-makna-menurut-para-ahli/
terkini, T. (n.d.). SEMANTIK
(Makna Referensial, Nonreferensial dan Konstruksi). Retrieved from
https://tulisanterkini.com/artikel/bahasa/12010-semantik-makna-referensial,-nonreferensial-dan-
Adjie,
D. (t.thn.). SlidePlayer.com. Dipetik Maret 23, 2021, dari
https://slideplayer.info/slide/2724985/
Komentar
Posting Komentar